welcome to the free zone...your expression is amazing...

Minggu, 07 November 2010

Aliran-Aliran dalam Sejarah Perkembangan Filsafat Ilmu Pengetahuan

A.Latar Belakang
Filsafat dan Ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan baik secara substansial maupun historis. Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh aliran-aliran pemikiran filsafat barat. Tanpa bermaksud untuk mengkonsentrasikan kajian pada pemikiran barat dan mengesampingkan pemikiran diluar barat; meskipun juga akan sedikit dibahas persentuhan pemikiran barat dengan dunia timur tengah (baca; Islam), kajian ini akan lebih banyak mengulas tentang sejarah aliran-aliran pemikiran barat dimulai dari zaman Yunani klasik yang pada akhirnya melahirkan spesialisasi dan sub-spesialisasi ilmu pada abad ke-20.
Semenjak Immanuel Kant yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat; maka semenjak itu pula refleksi filsafat mengenai pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian. Dan lahirlah pada abad 18 cabang filsafat yang disebut sebagai filsafat pengetahuan (theory of knowledge atau epistemology). Melalui cabang filsafat ini diterangkan sumber serta tatacara untuk menggunakan sarana dan metode yang sesuai guna mencapai pengetahuan ilmiah. Diselidiki pula evidensi dan syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi apa yang disebut kebenaran ilmiah, serta batas batas validitasnya.
Pengetahuan Ilmiah atau Ilmu (Science) pada dasarnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan pengetahuan sehari-hari yang dilanjutkan dengan suatu pemikiran cermat dan seksama dengan menggunakan berbagai metode. Dan karena pengetahuan ilmiah (atau yang biasa disebut-sebut sebagai ilmu) merupakan a higher level of knowledge, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai pengembangan dari filsafat pengetahuan. Bidang garapan filsafat ilmu tidak jauh dari komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga eksistensi pengetahuan ilmiah, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dan dalam pengembangannya filsafat ilmu juga mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut aspek etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan umat manusia.
Filsafat ilmu sebagai disiplin yang mandiri baru hadir pada tahun 1920-an; dimana sebelumnya pemikiran kefilsafatan tentang ilmu dapat dikatakan lebih merupakan produk sampingan pengembangan epistimologi. Pada mulanya kajian filsafat tentang pengetahuan ilmiah berusaha menjelaskan usur-unsur yang terlibat dalam proses penelitian tentang pengetahuan, yaitu: prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola argument, metode penyajian, analisis, dan seterusnya. Kemudian dalam bentuk kontemporer topik filsafat ilmu berkembang sampai pada analisis dan diskusi eksplisit mengenai cabang-cabang ilmu spesifik yang kedudukannya setara dengan filsafat epistemologi itu sendiri. Dari pada itu kemudian ada istilah tentang filsafat ilmu umum dan filsafat ilmu khusus.
Dari sini tampak bahwa kemandirian filsafat ilmu disebabkan atau didorong oleh perkembangan ilmu, khususnya ilmu-ilmu alam yang sangat cepat dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Perubahan-perubahan kemasyarakatan yang fundamental, meluas dan cepat yang berkaitan erat dengan perkembangan ilmu dan teknologi dalam berbagai bidang telah memunculkan berbagai masalah dan krisis kemasyarakatan dan menyebabkan sejumlah ilmuwan dan filsuf memberikan perhatian khusus terhadap ilmu. Namun sampai saat ini penulis sendiri masih merasakan adanya kekaburan mengenai batas-batas dari cabang ilmu yang satu dengan yang lain, sehingga interdependensi dan interrelasi ilmu menjadi sangat terasa. Oleh karena itu penulis memberi asumsi bahwa dibutuhkan suatu overview untuk meletakkan jaringan interaksi untuk saling menuju hakikat ilmu yang integratif.
Diharapkan dengan menunjukan sketsa umum berbagai gambaran secara garis besar mengenai kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan yang pada gilirannya melahirkan suatu cabang filsafat ilmu, kiranya menjadi jelas bahwa filsafat ilmu adalah refleksi filsafat yang tidak pernah mengenal titik henti dalam menjelajahi kawasan ilmiah untuk mencapai sebuah kebenaran. Hakikat ilmu itu sendiri menjadi penyebab fundamental dan kebenaran universal selalu melekat kepadanya. Maka dengan mengetahui filsafat ilmu berarti akan memahami seluk beluk ilmu yang paling dasar sehingga dapat diupayakan kemungkinan pengembangannya serta mengerti keterjalinan antar ilmu yang satu dengan yang lain.

B.Periode Klasik (Abad Sebelum Masehi)
Para tokoh besarnya antara lain:
Anaximander (± 610-540 SM), Anaximenes (± 585-525 SM), Thales (± 640-546 SM), Pythagoras (572-497 SM), Socrates (± 470-399 SM), Plato (428- 348 SM), Aristoteles (382-322 SM), Marcus Tullius Cicero (106-43 SM)
Pada zaman ini filsafat dan ilmu saling berkelindan menjadi satu dan para filosof (ilmuwan) tidak terlalu pusing untuk memisahkannya menjadi hal yang berlainan. Persoalan-persoalan ilmu berada seputar metode dan substansi yang tidak lepas dari realitas yang biasa disebut filsafat alam (kosmologi). Usaha pertamanya adalah melampaui mitologi-mitologi tradisional menuju penjelasan rasional atas alam. Persoalannya berkisar pada pencarian terhadap entitas-entitas yang dikandung oleh semua benda.
Dimulai dengan tiga filsuf dari kota Miletos yaitu Thales, Anaximander dan Anaximenes. Ketiganya secara khusus menaruh perhatian pada alam dan kejadian-kejadian alamiah, terutama tertarik pada adanya perubahan yang terus menerus di alam. Mereka mengembangkan kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar dan struktur komposisi dari alam semesta. Thales mengatakan bahwa prinsip itu adalah air, Anaximander menyatakan segala sesuatu berasal dari "yang tak terbatas", dan menurut Anaximenes udara-lah yang merupakan unsur induk segala sesuatu.
Filosof berikutnya adalah Pythagoras. Penemuannya terhadap interval-interval utama dari tangga nada yang diekspresikan dengan perbandingan bilangan-bilangan dan penemuan tentang persamaan besaran sudut segitiga sama sisinya yang terkenal mengungkapkan secara tersirat bahwa segala sesuatu terdiri dari "bilangan-bilangan" dan struktur dasar kenyataan itu adalah "ritme". Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikusai oleh hukum matematis. Bahkan katanya segala-galanya adalah bilangan. Pythagoras yang mengajar di Itali Selatan, adalah orang pertama yang menamai diri "filsuf". Ia memimpin suatu sekolah filsafat dan sekolah Pythagoras ini sangat penting untuk perkembangan matematika dikemudian hari.
Pada jaman Pythagoras ada Herakleitos yang menyatakan bahwa api sebagai dasar segala sesuatu. Api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja berubah menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa di dalam dunia alamiah tidak sesuatupun yang tetap. Segala sesuatu yang ada sedang menjadi. Pernyataannya yang masyhur "Pantarhei kai uden menei" yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tetap. Kemudian ada filosof yang disebut-sebut sebagai peletak dasar metafisika, yakni Parmenides. Parmenides berpendapat bahwa yang ada itu ada, yang tidak ada itu tidak ada. Konsekuensi dari pernyataan ini adalah yang ada 1) satu dan tidak terbagi, 2) kekal, tidak mungkin ada perubahan, 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya, 4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada perubahan sebagaimana klaim Herakleitos.
Para filsuf tersebut dikenal sebagai filsuf Monisme yaitu pendirian bahwa realitas seluruhnya bersifat satu karena terdiri dari satu unsur saja. Adapun para filsuf yang akan disebutkan berikut ini dikenal sebagai filsuf Pluralis, karena pandangannya yang menyatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur. Empedokles menyatakan bahwa realitas terdiri dari empat rizomata (akar) yaitu api, udara, tanah dan air. Perubahan-perubahan yang terjadi di alam dikendalikan oleh dua prinsip yaitu cinta (Philotes) dan benci (Neikos). Pluralis yang berikutnya adalah Anaxagoras, yang mengatakan bahwa realitas adalah terdiri dari sejumlah tak terhingga spermata (benih). Berbeda dari Empedokles yang mengatakan bahwa setiap unsur hanya memiliki kualitasnya sendiri seperti api adalah panas dan air adalah basah, Anaxagoras mengatakan bahwa segalanya terdapat dalam segalanya. Karena itu rambut dan kuku bisa tumbuh dari daging. Perubahan yang membuat benih-benih menjadi kosmos hanya berupa satu prinsip yaitu Nus yang berarti roh atau rasio. Nus tidak tercampur dalam benih-benih dan Nus mengenal serta mengusai segala sesuatu. Karena itu, Anaxagoras dikatakan sebagai filsuf pertama yang membedakan antara "ruhani" dan "jasmani". Pluralis selanjutnya adalah Epikuros, Leukippos dan Demokritos yang juga disebut sebagai filsuf Atomis. Atomisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang tak dapat dibagi-bagi lagi, karenanya unsur-unsur terakhir ini disebut atomos. Jumlah atom tidak berhingga dan tidak mempunyai kualitas, sebagaimana pandangan Parmenides bahwa atom-atom tidak dijadikan dan kekal. Tetapi Leukippos dan Demokritos menerima pemikiran tentang ruang kosong sehingga memungkinkan adanya gerak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari dua hal: yang penuh dengan atom-atom dan yang kosong. Menurut Demokritos jiwa juga terdiri dari atom-atom. Menurutnya proses pengenalan manusia tidak lain sebagai interaksi antar atom. Setiap benda mengeluarkan eidola (gambaran-gambaran kecil yang terdiri dari atom-atom dan berbentuk sama seperti benda itu). Eidola ini masuk ke dalam panca indra dan disalurkan kedalam jiwa yang juga terdiri dari atom-atom eidola. Atom jiwa bersentuhan dengan atom licin menyebabkan rasa manis, persentuhan dengan atom kesat menimbulkan rasa pahit sedangkan sentuhan dengan atom berkecepatan tinggi menyebabkan rasa panas, dan seterusnya.
Kajian Filsafat diteruskan oleh Socrates. Filsafat dalam periode ini ditandai oleh ajarannya yang "membumi" dibandingkan ajaran-ajaran filsuf sebelumnya. Maksudnya, filsuf pra-Socrates mengkonsentrasikan diri pada persoalan alam semesta sedangkan Socrates mengarahkan obyek penelitiannya pada manusia di atas bumi. Socrates memulai filsafatnya dengan bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan kehidupan kongkret. Menurut Socrates tidak benar bahwa yang baik itu baik bagi warga negara Athena dan lain lagi bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai nilai yang sama bagi semua manusia, dan harus dijunjung tinggi oleh semua orang. Pendiriannnya yang terkenal adalah pandangannya yang menyatakan bahwa keutamaan (arete) adalah pengetahuan, pandangan ini kadang-kadang disebut Intelektualisme etis. Dengan demikian Socrates menciptakan suatu etika yang berlaku bagi semua manusia. Sedangkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan Socrates menemukan metode induksi dan memperkenalkan definisi-definisi umum.
Lalu ada muridnya yang bernama Plato. Hampir semua karya Plato ditulis dalam bentuk dialog dan Socrates diberi peran yang dominan dalam dialog tersebut. Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa Plato memilih yang begitu. Pertama, sifat karyanya Socratik – Socrates berperan sentral – dan diketahui bahwa Socrates tidak mengajar tetapi mengadakan tanya jawab dengan teman-temannya di Athena. Dengan demikian, karya Plato dapat dipandang sebagai monumen bagi sang guru yang dikaguminya. Kedua, berkaitan dengan anggapan Plato mengenai filsafat. Menurutnya, filsafat pada intinya tidak lain daripada dialog, dan filsafat seolah-olah drama yang hidup, yang tidak pernah selasai tetapi harus dimulai kembali.
Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan metode pengetahuan. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu inderawi yang selalu berubah dan dunia idea yang tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yang obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya pikiran tergantung pada idea-idea tersebut. Idea-idea berhubungan dengan dunia melalui tiga cara; Idea hadir di dalam benda, idea-idea berpartisipasi dalam kongkret, dan idea merupakan model atau contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada gilirannya juga memberikam dua pengenalan. Pertama, pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yang sebenarnya. Pengenalan yang dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat, teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat), dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dengan panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar filsafat Pra-socratik yaitu pandangan pantarhei-nya Herakleitos dan pandangan yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi. Tentang jiwa Plato berpendapat bahwa jiwa itu baka, lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi. Sebelum bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami pra eksistensi dimana ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis) terhadap idea-idea yang telah dilihat pada waktu pra-eksistensi. Dunia yang kelihatan, menurut Plato, hanya merupakan bayangan dari dunia yang sungguh-sungguh, yaitu dunia ide-ide yang abadi. Jiwa manusia berasal dari dunia ide-ide. Jiwa di dunia ini terkurung di dalam tubuh. Keadaan ini berarti keterasingan. Jiwa kita rindu untuk kembali ke "surga ide-ide".
Filsafat Plato, yang lebih bersifat khayal daripada suatu sistem pengetahuan, sangat dalam dan sangat luas dan meliputi logika, epistemolgi, antropologi, teologi, etika, politik, ontologi, filsafat alam dan estetika.
Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah usahanya membuka sekolah yang bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi nama "Akademia" yang paling didedikasikan kepada pahlawan yang bernama Akademos. Mata pelajaran yang paling diperhatikan adalah ilmu pasti. Menurut cerita tradisi, di pintu masuk akademia terdapat tulisan; "yang belum mempelajari geometri janganlah masuk di sini".
Tradisi estafet filsafat kemudian diteruskan oleh Aristoteles, yang merupakan murid dari Plato sendiri. Spektrum pengetahuan yang diminati oleh Aristoteles luas sekali, menurutnya pengetahuan manusia dapat disistemasikan sebagai berikut; pengetahuan teoritis, praktis, produktif, teologi/metafisik, matematik, fisika, etika, politik, seni, ilmu ukur dan retorika. Aristoteles berpendapat bahwa logika tidak termasuk ilmu pengetahuan tersendiri, tetapi mendahului ilmu pengetahuan sebagai persiapan berfikir secara ilmiah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, logika diuraikan secara sistematis. Mengenai pengetahuan, Aristoteles mengatakan bahwa pengetahuan dapat dihasilkan melalui jalan induksi dan deduksi, Induksi mengandalkan panca indera yang "lemah", sedangkan deduksi lepas dari pengetahuan inderawi. Karena itu dalam logikanya Aristoteles sangat banyak memberi tempat pada deduksi yang dipandangnya sebagai jalan sempurna menuju pengetahuan baru. Salah satu cara Aristoteles mempraktekkan deduksi adalah Syllogismos (silogosme).
Didalam fisikanya, Aristoteles mempelajari dan membagi gerak (kinetis) menjadi dua; gerak spontan dan gerak aksidental. Gerak spontan yang diartikan sebagai perubahan secara umum dikelompokkan menjadi gerak subsitusional yakni sesuatu menjadi sesuatu yang lain seperti seekor anjing mati dan gerak aksidental yakni perubahan yang menyangkut salah satu aspek saja. Gerak aksidental ini berlangsung melalui tiga cara; yaitu gerak lokal seperti meja pindah dari satu tempat ke tempat lain, gerak kualitatif seperti daun hijau menjadi kuning, dan gerak kuantitatif seperti pohon tumbuh membesar. Dalam setiap gerak ada 1) keadaan terdahulu, 2) keadaan baru, dan 3) substratum yang tetap. Sebagai contoh air dingin menjadi panas; dengan dingin sebagai keadaan terlebih dahulu, panas sebagai keadaan baru dan air sebagai substratum. Analisa gerak ini menuntut kita membedakan antara aktus dan potensi. Dalam fase pertama panas menjadi potensi air dan pada fase kedua panas menjadi aktus. Aristoteles juga mengintrodusir pengertian bentuk (morphe atau eidos) dan materi (hyle) ke dalam analisa geraknya. Dalam contoh air dingin menjadi panas, air sebagai hyle dan dingin serta panas sebagai morphe. Aristoteles mengatakan alam yang tidak hidup terdiri dari empat anasir api, udara, air dan tanah; dan bahwa setiap anasir menuju ketempat kodratinya (locus naturalis). Berkaitan dengan jagat raya Aristoteles mengatakan bahwa kosmos terdiri dari dua wilayah yaitu wilayah sublunar (di bawah bulan) dan wilayah yang meliputi bulan, planet-planet dan bintang-bintang. Jagat raya berbentuk bola dan terbatas, tetapi tidak mempunyai permulaan dan kekal. Badan-badan jagat raya diluar bumi semua terdiri dari anasir kelima yaitu ether yang tidak dapat dimusnahkan dan tidak dapat berubah menjadi anasir lain. Gerak kodrati anasir ini adalah melingkar.
Pandangan psikologi Aristoteles adalah bahwa jiwa dan badan dipandang sebagai dua aspek dari satu substansi. Badan adalah materi dan jiwa dalam bentuk dan masing-masing berperan sebagai potensi dan aktus. Pada manusia, jiwa dan tumbuh merupakan dua aspek dari substansi yang sama yakni manusia. Anggapan ini mempunyai konsekuensi bahwa jiwa tidak kekal karena jiwa tidak dapat hidup tanpa materi. Potensi dan aktus juga mempunyai bentuk dalam pengenalan inderawi. Pengenalan inderawi tidak lain adalah peralihan dari potensi (yakni dari aktus obyek) ke aktus organ tubuh. Sebagaimana proses pengenalan inderawi dalam pengenalan rasional bentuk tepatnya bentuk intelektual diterima oleh rasio. Bentuk intelektual ialah bentuk hakikat atau esensi suatu benda. Fungsi rasio dibagi menjadi dua macam yaitu rasio pasif (nus pathetikos) yang menerima esensi dan rasio aktif (nus poitikos) yang "membentuk" esensi.
Ta meta ta physica berarti hal-hal sesudah hak-hal fisis. Di dalam Metaphysica-nya Aristoteles membahas Penggerak Utama. Gerak utama di jagat raya tidak mempunyai permulaan maupun penghabisan. Karena setiap sesuatu yang bergerak, digerakkan oleh sesuatu yang lain perlulah menerima satu Penggerak Pertama yang menyebabkan gerak itu, tetapi ia sendiri tidak digerakkan. Penggerak ini sama sekali lepas dari materi, karena segalanya yang mempunyai materi mempunyai potensi untuk bergerak.
Dalam filsafat, Aristoteles disebut sebagai tokoh madzhab Peripatis (peripatos, berjalan-jalan) yang menyadarkan diri pada deduksi untuk memperoleh kebijaksanaan. Sedangkan gurunya, Plato merupakan tokoh madzhab Illuminasionis yang juga mengandalkan jalan hati, asketisme dan penyucian jiwa dalam menyingkap realitas. Filsafat Aristoteles sangat sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besar sekali. Tulisan-tulisan Aristoteles meliputi bidang logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam.
Ada satu tokoh lagi yang tidak boleh ditinggalkan, yakni Marcus Tullius Cicero. Sebagaimana yang sudah diketahui, ia adalah seorang filsuf dari Romawi yang terkemuka dari aliran Stoicisme. Aliran yang didirikan oleh Zeno dari Citium. Dimana beberapa pandangan menurut kaum Stoicisme, yakni. Pertama, dalam hal logika mereka menekankan kalkulus proposional dan menurunkan kaitan-kaitan logis dari akal sendiri oleh semacam keniscayaan logis. Kedua, epistemologi Stoicisme memberikan sumbangsih ungkapan “pandangan umum” kepada filsafat. Mereka berpandangan bahwa semua manusia mempunyai sekumpulan ide yang umum. Ide-ide itu berperan dalam synkatathesis (penerimaan proporsi-proporsi kebenaran). Ketiga, dalam fisika mereka menekankan hakikat jasmani semua benda dan memandang dunia sebagai sesuatu yang dapat ditentukan.

C.Periode Mediaeval (Abad tengah)
Para tokoh besarnya antara lain:
Plotinos (205-270), al-Kindi (801-866), al-Farabi (870-950), Ibn Sina (980-1037), Ibn Rushd (1126-1198), Maimonides (1135-1204), Thomas Aquinas (1225-1274), Bonaventura (1217-1274), Albertus Magnus (1220-1280), Yohanes Duns Scotus (1266-1308).
Seorang filsuf Mesir, Plotinos mengajarkan suatu filsafat yang sebagian besar berdasarkan pada ajaran Plato dan yang kelihatan sebagai suatu agama. Neo-platonisme ini mengatakan bahwa seluruh kenyataan merupakan suatu proses "emanasi" (penampakan) yang berasal dari Yang Esa dan yang kembali ke Yang Esa. Berkat "eros": kerinduan untuk kembali ke asal ilahi menjadi tujuan dari segala sesuatu. Ajaran falsafi-teologis dari Bapa-bapa Gereja menunjukkan pengaruh Plotinos. Mereka berusaha untuk memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Mereka berhasil membela ajaran kristiani terhadap tuduhan dari pemikir-pemikir kafir.
Sekitar tahun 1000 Masehi peranan Plotinos diambil alih oleh penganut Aristoteles. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan banyak filsuf penting, diantaranya Thomas Aquinas, Bonaventura, Albertus Magnus, Yohanes Duns Scotus. Mereka sebagian besar berasal dari kedua ordo baru yang lahir dalam Abad Pertengahan, yaitu para Dominikan dan Fransiskan. Filsafat mereka disebut Skolastik (dari kata Latin scholasticus, "guru"). Dalam periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang tetap dan yang bersifat internasional. Tema-tema pokok dari ajaran mereka itu: hubungan iman-akal budi, adanya dan hakikat Tuhan, antropologi, etika dan politik.
Di Timur Tengah sendiri, pada masa ini paham-paham Aristoteles menjadi masyhur kembali melalui beberapa filsuf Islam dan Yahudi, diantaranya Avicena, Averroes dan Maimonides. Tokoh filsafat Muslim yang pertama dikenal adalah al-Kindi. Pandangannya meliputi metode logika untuk mencari kebenaran, matematika dan fisika. Kemudian disusul al-Farabi yang mengeksplorasi ilmu geometri dan mekanika sekaligus ia seorang musikus yang besar. Adapun Ibn Shina dikenal sebagai peletak dasar kaidah kedokteran dengan kitabnya yang berjudul Qanun fi al-Thibb. Beliau juga mengarang kitab as-Syifa yang berisi tentang matematika, metafisika, fisika, psikologi, zoology, geologi, botani, ilmu astronomi dan music. Sedangkan Ibn Rusyd dikenal sebagai lewat komentarnya atas karya-karya Aristoteles.

D.Abad ke-17 sampai Abad ke-19
Para tokoh besarnya diantara lain:
Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johannes Keppler (1571-1630), Galileo Galilei (1564-1642), Francis Bacon (1562-1626), René Descartes (1596-1650), Blaise Pascal (1623-1662), Benedictus de Spinoza (1632-1677), Gottfried Wilhelm Leibnez (1646-1716), John Locke (1632-1704), Isaac Newton (1642-1727), George Berkeley (1685-1753), Christian Wolff (1679-1754), David Hume (1711-1776), Immanuel Kant (1724-1804), Auguste Comte (1798-1857), George Friedrich Wilhelm Hegel (1770-1831), George Boole (1815-1864), Augustus De Morgan (1806-1871), Herbert Spencer (1820-1903), Henry Sidgwick (1838-1900), Karl Marx (1818-1883)
Pembaharuan yang kelihatan dalam filsafat Renaissance dan Aufkleraung adalah bahwa ilmu pengetahuan tidak berlandaskan pada “hukum Tuhan”, seperti dalam Abad Pertengahan, melainkan pada penalaran dari manusia itu sendiri untuk mengungkapkan kebenaran. Mulai sekarang manusia-lah yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan. Filsuf-filsuf ini menekankan kemungkinan-kemungkinan akal budi ("ratio") manusia. Para filsuf mencoba melepaskan diri dari cengkraman gereja, sehingga kemudian dikenal istilah sekuralisasi pengetahuan. Tokoh awalnya adalah Copernicus yang mengintrodusir dalil bahwa bumi bukan pusat dari alam semesta, bukan seperti yang dikemukakan Ptolomeus dimana bumi adalah pusat jagad raya (geosentis) yang diperkuat oleh gereja. Teori Copernicus ini melahirkan revolusi pemikiran tentang ilmu astronomi. Kemudian muncul Keppler yang mengemukakan hukum astronomi bahwa orbit dari semua planet berbentuk elips. Pendapat ini diperkuat dengan pembuktian Galileo, dimana ia menyatakan bahwa pusat jagad raya adalah matahari (heliosentris). Dan bumi mengalami dua gerak (rotasi); yakni bergerak pada porosnya dan bergerak mengelilingi matahari. Ada juga Pascal yang menyusun dasar-dasar perhitungan statistic. Kemudian Newton yang melahirkan teori grafitasi, perhitungan calculus dan sistem kerja optik.
Adalah Francis Bacon yang menjadi perintis filsafat ilmu pengetahuan dengan ungkapannya yang terkenal “knowledge is power”. Pada abad ini perdebatan tentang filsafat ilmu tidak lepas dari perdebatan dalam ilmu itu sendiri. Bacon dengan metode induksi yang memandang dalam menghasilkan ilmu pengetahuan para ilmuwan harus menghasilkan penyebutan yang seksama terhadap fenomena empiris yang diselidiki sebagai pendahuluan untuk mengidentifikasi “bentuk” obyek yang ingin dijelaskan. Berbeda dengan Descrates yang terfokus pada persoalan penyusunan sistem-sistem deduktif yang serba koheren dan konsisten dalam teori pengetahuan. Pada abad ini berbagai aliran filsafat muncul. Adapun paham-paham yang muncul secara garis besar adalah Rasionalisme, Empirisme, Kritisisme, Idealisme, Positivisme dan Marxisme.
Pertama, aliran Rasionalisme mengajarkan bahwa akal (rasio) adalah alat terpenting untuk memperoleh dan menguji ilmu pengetahuan. Tokoh penting dalam aliran ini adalah Descrates, Spinoza, Leibniz dan Wolff.
Kedua, aliran Empirisme menyatakan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman. Aliran ini secara tegas menolak pandangan paham Rasionalisme yang berdasarkan pada kepastian yang bersifat apriori. Pelopor aliran ini adalah Francis Bacon, kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes, Jhon Locke, George Berkeley dan David Hume.
Ketiga, aliran Kritisisme dari seorang filsuf Jerman yang bernama Immanuel Kant. Aliran ini berusaha menjembantani pandangan-padangan yang saling bertentangan antara Rasionalisme dan Empirisme. Menurut Kant, pengetahuan merupakan hasil terakhir yang diperoleh dengan adanya kerjasama antara dua komponen, yaitu bahan-bahan yang bersifat pengalaman indrawi disatu pihak dengan pengolahan kesan-kesan yang bersangkutan sehingga terdapat suatu hubungan sebab akibat dalam kerangka pikir (rasio) dipihak lain. Kant mengemukakan bahwa pengetahuan harusnya sintesis a priori, yakni pengetahuan harus bersumber dari rasio dan empiris dan sekaligus bersifat apriori dan aposteriori.
Keempat, Idealisme yang bermula pada pemikiran Idealismenya Plato. Diawali dengan Idealisme Subjektifnya Fitche dan Idealisme Objektifnya Scelling. Kemudian keduanya disintesiskan dalam filsafat Idealisme mutlaknya Hegel. Namun demikian pada dasarnya sumber filsafat aliran ini adalah mengikuti filsafat Kritisismenya Kant.
Kelima, Positivisme yakni sistem filsafat yang dikembangkan oleh Auguste Comte, seorang matematikus dan filsuf dari Prancis, yang mengakui bahwa sumber pengetahuan berasal dari fakta-fakta positif dari fenomena-fenomena yang bisa diobservasi. Filsafat Positivisme ini juga disebut dengan Empirisme-kritis. Dan dari filsafat ini dikemudian hari lahirlah bidang ilmu sosiologi.
Keenam, Marxisme yang didirikan oleh Karl Marx atas perpaduan antara metode dealektika Hegel dan filsafat Materialisme Feuerbach. Pemikiran Marx bertalian sangat erat dengan sistem sosial dan ekonomi. Bagi Marx masalah filsafat bukan hanya sebatas masalah ilmu pengetahuan, melainkan juga masalah tindakan. Para filosof selama ini hanya sekedar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, namun luput untuk berusaha mengubahnya. Filsafat ini juga yang melatari adanya revolusi industri di Eropa dan ideologi-ideologi besar di dunia.

E.Perbincangan Abad ke-20
Para tokohnya diantara lain:
William James (1842-1910), Wilhelm Windelband (1848-1915), Friedrich Ludwig Gottlob Frege (1848-1925), Miguel De Unamuno Y Jugo (1864 - 1936), Moritz Schlick (1882-1936), Sigmund Freud (1856-1939), Alfred North Whitehead (1861-1947), Jhon Dewey (1859-1952), George Edward Moore (1873-1958), Bertrand Arthur William Russell (1872-1970), Jacques Maritain (1882-1973), Jean Paul Sartre (1905-1980), Michel Foucault (1926-1984), Francois Lyotard (1924-1998), Jacques Derrida (1930-2004)
Pada abad ini perkembangan ilmu pengetahuan ditandai dengan munculnya berbagai aliran filsafat, yang kebanyakan dari aliran-aliran itu merupakan kelanjutan dari aliran pada abad sebelumnya. Diantaranya: Neo-thomisme, Neo-kantianisme, Neo-hegelianisme, Neo-Marxisme, Neo-Positivisme dan sebagainya. Dan ada juga aliran yang baru dengan corak yang sama sekali berbeda dengan aliran sebelumnya, diantaranya: Analitisme, Eksistensialisme, Strukturalisme, Pragmatisme dan Postmodernisme. Akan lebih menarik apabila penjelasan kajian dan perbincangan ilmu pada masa ini difokuskan hanya kepada beberapa aliran yang masih berkembang hingga dewasa ini.
Pertama, Filsafat Analitis merupakan aliran terpenting di Inggris dan Amerika Serikat, sejak sekitar tahun 1950. Filsafat Analitis (yang juga disebut Analitic Philosophy dan Linguistic Philosophy) menyibukkan diri dengan analisis bahasa dan analisis konsep-konsep. Filsafat analitis ini sangat dipengaruhi oleh Wittgenstein dan Bertrand Russell. Wittgenstein mengungkapkan bahwa apa yang dihasilkan oleh sebuah karya filsafat bukan melulu sederetan ungkapan filsafati, melainkan upaya membuat ungkapan-ungkapan menjadi jelas. Tujuan filsafat adalah penjelasan logis terhadap pemikiran; filsafat bukan doktrin melainkan aktifitas. Dengan demikian jelaslah bahwa para filsuf Analitik ini memberi respons atas aliran Idealisme yang lebih menekankan pada upaya pengintrodusiran ungkapan-ungkapan filsafat yang kebanyakan bermakna ganda, kabur dan tidak terpahami oleh nalar.
Kedua, Eksistensialisme mengajukan protes dan pemberontakan terhadap Rasionalisme dan Idealisme Hegel. Aliran ini menekankan pada peran individu dan menolak dengan tegas alam impersonal (tanpa kepribadian) yang dihasilkan dari zaman industri modern. Salah seorang tokoh aliran ini adalah Jean Paul Sartre yang membedakan rasio dialektis dan rasio analitis. Kedua rasio ini harus dijalankan dalam mengungkapkan ilmu pengetahuan.
Ketiga, Strukturalisme berkembang di Perancis, lebih-lebih sejak tahun 1960. Strukturalisme berawal dari suatu sekolah pemikiran dalam bidang filsafat, linguistik, psikiatri, fenomenologi agama, ekonomi dan politikologi. Sturukturalisme menyelidiki "patterns" (pola-pola dasar yang tetap) dalam bahasa-bahasa, agama-agama, sistem-sistem ekonomi dan politik, dan dalam karya-karya kesusasteraan. Tokoh-tokoh terkenal dari Strukturalisme antara lain Cl. Lévi-Strauss, J. Lacan dan Michel Foucault.
Keempat, Pragmatisme merupakan gerakan filsafat dari Amerika. Pragmatisme dikenal juga dengan sebutan Instrumentalisme. Aliran ini menerapkan suatu sikap dalam berfilsafat dengan memakai akibat-akibat praktis dari pikiran unutk memberikan tolak ukur terhadap nilai kebenaran suatu ilmu pengetahuan dalam kehidupan. Tokoh dari aliran ini adalah William James dan Jhon Dewey.
Kelima, Postmodernisme atau dikenal dengan nama lain Post-strukturalisme lahir sebagai reaksi terhadap kegagalan modernisme. Klaim-klaim dari kaum Postmodernisme tentang “berakhirnya modernisme” dimaksudkan untuk menunjukkan berakhirnya anggapan modern tentang “dunia subyek” dan “dunia obyektif”. Tokohnya yakni Lyotard dan Derrida yang ingin mendobrak tatanan modenitas telah terjebak dalam mitos bahwa ilmu pengetahuan dan aplikasinya dalam teknologi telah mampu menyelesaikan persoalan kemanusiaan. Padahal dalam tataran realitasnya, banyak persoalan kemanusiaan yang muncul sebagai dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

E.Kesimpulan
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa perkembangan historis dari aliran-aliran ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut:
a.Masa Klasik
Pada masa ini pemikiran ilmu pengetahuan lebih didominasi oleh karakteristik kosmosentris. Terjadi silang pendapat yang saling bertentangan dari aliran-aliran kaum Stoic dan Epicurus serta paham-paham Plato dan Aristoteles.
b.Abad Pertengahan
Pada masa ini pemikiran ilmu pengetahuan lebih didominasi oleh karakteristik teosentris. Pada periode ini ilmu pengetahuan berpihak penuh pada otoritas agama (yang dalam hal ini bisa direpresentasikan oleh gereja dalam tradisi kristen); dimana ilmu pengetahuan berada dibawah pengawasan institusi gereja. Pengajaran imu-ilmu pengetahuan dilaksanakan digereja-gereja. Bukan hanya di barat, di dunia timur tengah (yang notabenenya merupakan daerah kekuasaan umat Islam), permasalahan ilmu pengetahuan juga diwarnai dengan perbincangan para penganut Plato dan aristoteles.
c.Abad XVII- XIX
Pada masa ini Pada masa ini pemikiran ilmu pengetahuan lebih didominasi oleh karakteristik antroposentris. Perbincangan tentang pencarian kebenaran lebih mengarah mengenai metodologi ilmiah yakni dengan hampiran induktif dari Francis Bacon dan hampiran deduktif dari René Descartes. Pada periode ini melimpah aliran-aliran pencarian sumber pengetahuan ilmiah, dimulai dari kaum rasionalis dan kaum empiris disusul Kritisisme serta Idealismenya pengembangan Kantians melalui pengenalan metode kritis dalam filsafatnya, lalu kaum Positivis dan terakhir paham Marxisme.
d.Abad XX
Pada masa ini pemikiran ilmu pengetahuan lebih didominasi oleh karakteristik logosentris. Babak dimulainya tanggapan-tanggapan terhadap relativitas, mekanika kuantum dan perubahan mendalam lainnya dalam ilmu-ilmu kealaman. Serta timbulnya berbagai aliran filsafat; baik sebagai tanggapan atas paham aliran sebelumnya ataupun dengan corak pemikiran yang sama sekali baru.


DAFTAR PUSTAKA
Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Cet II. Jakarta; Gramedia. 2000.
Bakhtiar Amsal. Filsafat Ilmu. Cet II. Jakarta; Raja Grafino Persada. 2005.
Gie, The Liang. Pengantar Filsafat Ilmu. Cet VIII. Yogyakarta; Liberty. 2010.
Muntasyir, Rizal & Misnal Munir. Filsafat Ilmu. Cet IX. Yogyakarta; Pustaka Pelajar. 2009.
Muslehuddin, Muhammad. Filsafat Hukum Islam dan Pemikiran Orientalis. (Pent: Yudian W. Asmin). 1991. Yogyakarta; Tiara Wacana.
Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam. Cet IV. Jakarta; Gaya Media Pratama. 2005.
Ravertz, Jerome R. The Philosophy of Science. (Pent: Saut Pasaribu). Cet IV. Yogyakarta; Pustaka Pelajar. 2009.
Siswanto, Joko. Sistem-sistem Metafisika Dunia Barat: Dari Aristoteles sampai Derrida. Yogyakarta; Pustaka Pelajar. 1998.
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM. Filsafat Ilmu. Cet V. Yogyakarta; Liberty. 2010.
http://kuliahfilsafat.blogspot.com/2009/04/sejarah-filsafat-klasik-filsafat-yunani.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar